Boikot Tapi Memakai
Sebuah koreksi untuk mereka yang merasa berjuang
Telah nyata dihadapan kita bahwa di luar sana sering terjadi pembantaian terhadap wanita, anak-anak, dan orang-orang muslim lainnya yang lemah dan tak berdaya. Mereka yang tidak tahu-menahu soal perang pun dibantai habis-habisan, rumah-rumah penduduk dibombardir, masjid-masjid dijadikan sasaran, ambulance pun dijadikan sasaran rudal-rudal modern. Telah nyata pula bahwa di luar sana darah dan kehormatan kaum muslimin dianggap murah. Siapapun mereka, asalkan orang islam, maka layak dibantai dan dijadikan sasaran.
Semua pembantaian dan tindakan tidak manusiawi tersebut tidak terlepas dari peran serta sebuah negara super power di benua Amerika, yaitu Amrerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Merekalah yang mengobarkan perang atas nama perdamaian, sebuah perdamaian semu yang takkan pernah terwujud.
Lantas apa tindakan kita sebagai kaum muslimin, sementara saudara-saudara kita dibantai dan diinjak-injak kehormatannya di luar sana?Apa usaha yang telah kita lakukan untuk menolong saudara kita di sana?Apakah kita hendak diam saja, mencoba menutup mata, dan tidak peduli dengan kejadian di luar sana?
Kapan kita turun tangan dan membantu saudara-saudara kita yang berperang?
Perang telah dimulai, apakah kita tetap diam saja…??Padahal kita tahu bahwa dana untuk perang besar tersebut sebagian bersumber dari penjualan produk-produk musuh kita yang kita beli dan manfaatkan hampir setiap hari.
Satu-satunya cara yang kita mampu saat ini guna menolong saudara kita adalah dengan memboikot produk-produk musuh kita. Untuk berperang kita belum mampu. Persenjataan dan kemampuan kita kalah jauh, apalagi banyak diantara kita yang belum benar-benar paham akan dien ini sesuai yang diajarakan Rasulullah saw., sehingga syarat-syarat guna mendapat pertolongan Allah swt. dan tercapainya kemenangan belum terpenuhi. Pendidikan, pengajaran, dan pemurnian dien ini masih perlu digalakkan hingga pemahaman dien yang benar bisa benar-benar mendarah daging pada jiwa masing-masing muslimin.
Lalu sekarang yang menjadi masalah, mengapa kita memboikot produk mereka namun juga memakai produk mereka? Mengapa kita memboikot tapi dengan cara-cara non syar’I seperti demonstrasi, turun ke jalan-jalan, dan melakukan orasi-orasi yang notabene merupakan produk-produk pemikiran mereka? Apakah kita tidak malu dengan musuh-musuh kita yang secara terang-terangan kita menyatakan memboikot produknya tapi masih juga menggunakan hasil-hasil pemikiran mereka?
Pasti musuh kita dalam hatinya berkata, "Bodoh sekali kalian…!!! Kalian memboikot produk kami, tapi memakai cara-cara seperti yang biasa kami lakukan. Munafik sekali kalian, di satu sisi memusuhi kami namun di sisi lain mendukung kami."
Saudaraku cobalah pikirkan…..
Manakah yang lebih berbahaya, membiarkan produk-produknya dipasarkan bebas sementara keadaan bangsa kita belum bisa membuat penggantinya atau yang sejenis dan kita pun membutuhkannya. Atau membiarkan pemikiran mereka yang jauh dari bimbingan syariat beredar bebas, kemudian kita turunkan pada anak-cucu kita hingga pemikiran tersebut mendarah–daging pada diri mereka,dan akhirnya generasi kita berikutnya tidak tahu bagaimana Islam yang benar, islam yang sesungguhnya sesuai ajaran Rasulullah saw..
Manakah yang lebih berbahaya wahai saudaraku…???
Wahai saudaraku….
Sebagai saudara aku hanya ingin mengajak diriku dan kamu sekalian untuk mempelajari dien ini dengan lurus dan benar sebagaimana yang diajarkan suri tauladan kita, Nabi Muhammad saw., yang dari lisannya tidaklah keluar melainkan al-hikmah dan kebenaran dari Allah swt. Ketahuilah kebenaran itu hanya satu, tidak ada sesudahnya melainkan pastilah kesesatan.
Hanya dengan ilmu kita bisa menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Hanya dengan ilmu kita tahu mana yang benar dan mana yang batil, hanya dengan ilmu pula kita tahu kapan bertindak dan kapan bersabar, dan hanya dengan ilmu pula kita tahu mana yang mendatangkan maslahat dan mana mudharat. Ilmu yang dimaksud bukanlah ilmu dunia, politik, ekonomi, fisika, atau pun matematika, tetapi al- islam. Ilmu yang terbimbing yang bersumber dari Allah swt. dan Rasul-Nya saw..
Walaupun aku bukanlah orang yang suci dan ‘alim, namun ajakanku ini bukanlah untuk merendahkan martabat, kedudukan, atau pun harga dirimu. Aku hanyalah saudaramu yang juga mengharap sepertimu pada apa yang Allah SWT. janjikan.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home