Thursday, December 28, 2006

Aku dan Aku

Hari ini benar-benar hari yang mengecewakan bagiku. Semuanya berjalan di luar rencana dan kendaliku. Entah mengapa sepertinya ada yang berubah dalam hidupku. Sayangnya aku merasa perubahan yang sedang terjadi ini bukan perubahan yang positif, tapi cenderung perubahan yang negatif dan kacau. Seolah-olah ada tenaga lain yang memaksaku untuk melakukan perubahan ini. Aku merasa payah, lemah, dan lelah tak bertenaga untuk melawan kekuatan jahat tersebut.

Sedikit demi sedikit kekuatan jahat tersebut mengambil alih kendali atas diriku sendiri. Aku merasa dikuasainya dan tak mampu menolak perintah-perintah dan keinginannya, walaupun kusadari semua perintah dan keinginannya cenderung jelek dan melanggar. Namun apa daya, aku tak mampu melawannya. Sungguh…, kasihan benar diriku…, lemah dan tidak berguna. Kalah dan mudah dikalahkan.

Kini aku menyadari bahwa diriku benar-benar terancam dan sedang dalam keadaan bahaya. Bahaya akan degradasi kepribadian, moral, dan pola pikir. Aku merasa kekuatan jahat tersebut berusaha mengubah semua yang ada dalam diriku. Tidak ada satupun hal yang bakal dilewatkannya dari pribadiku yang unik dan mempesona ini. Sebagai manusia, aku harus tetap exist , entah bagaimana caranya yang jelas aku harus senantiasa ada dan terus hidup. Tidak ada yang boleh menghancurkanku, tidak ada yang boleh mengalahkanku, dan tidak ada yang boleh menguasaiku. Aku harus tetap menjadi aku yang sebenarnya, aku yang bebas, tidak tergantung dan terikat pada yang lain, aku yang bukan copian, dan aku yang berani melawan demi kebenaran.

Sungguh, kini kusadari betapa nikmatnya menjadi diri sendiri. Diri sendiri yang unik dan tidak terpengaruh yang lain. Biarpun banyak orang tidak suka, biarpun banyak orang mencemooh, biarpun banyak orang sinis, dan biarpun banyak orang berpikiran jelek tentangku, sungguh…., hal itu lebih membahagiakan bagiku daripada harus menjadi seperti yang mereka inginkan. Satu hal yang pasti dan harus aku perbuat, melawan….! Aku harus segera melawan pengaruh-pengaruh nista tersebut, melawannya sekuat tenaga, dan jangan mempedulikan perkataan orang. Selama tindakanku tidak melanggar agamaku, maka sah-sah saja bagiku, tidak perlu meminta pertimbangan orang, dan biarkan orang lain berkata apa adanya. Dalam hidup ini, tidak ada suatu tindakan yang berharga tanpa diiringi celaan. Maka jangan takut pada celaan, celaan hanya merupakan luapan hati orang lain karena ketidakmampuannya untuk bertindak sepertiku. Wahai diriku…., jangan kau takut hal itu…! Ikuti kata hatimu, ikuti nalurimu, lakukan perubahan, dan lakukan perlawanan…!! Jangan pernah takut, menyerah, dan jangan pernah menyesal untuk menjadi dirimu sendiri.

Oke…, lakukan perlawanan saat ini juga, jangan tunda lagi, dan jangan pernah menunggu hari esok untuk melakukan tindakan yang berharga. Berharga bagi dirimu, masa depanmu, keluargamu, dan orang-orang di sekitarmu. Namun, sebelum itu, orang yang hendak perang harus tahu dulu siapa lawan dan siapa kawan. Oleh karena itu, ketahuilah dulu siapa lawan dan siapa kawanmu Siapa saja mereka…?

Ya…, aku tahu hal itu. Naluriku mengatakan, aku harus bertindak saat ini juga. Tiada yang lebih kupercaya selain diriku sendiri, tiada pula yang lebih kupercaya selain naluri dan intuisiku sendiri. Sesuai sarannya, maka aku akan bertindak. Benar kau…, aku harus tahu dulu siapa kawan dan siapa lawan. Biar kupikir-pikir dulu siapa saja mereka. Bukan hal yang mudah untuk menentukan siapa lawan dan kawan, sebab kadang mereka bermuka dua, mereka bagai musuh dalam selimut. Kadang mendukung dan kadang melawanku.

Baik…., sepertinya aku sudah menemukan siapa saja mereka. Lawan…! Lawanku adalah kemalasanku, lawanku adalah nafsuku, lawanku adalah ketakutanku, dan lawanku adalah pengaruh yang merongrong dari luar. Kini mereka semua telah bersatu dengan mengatasnamakan nafsu. Dibawah bendera nafsu, dibawah perintah nafsu, mereka menyerangku dari segala penjuru, dari kiri, kanan, atas, bawah, depan, dan belakang. Pokoknya dari segala arah hingga tidak ada satu pun celah bagiku untuk bersembunyi dan menyembuhkan diri. Mereka tidak melukaiku, tapi mereka menyakitiku. Mereka tidak membunuhku, tapi mereka hanya memasungku. Hingga akhirnya pribadiku mati dan akhirnya aku menjadi abdinya. Ya…, sepertinya itulah tujuan mereka, membunuh pribadiku. Sungguh…, benar-benar kejam mereka, benar-benar buruk perangainya. Takkan kumaafkan mereka dan takkan kubiarkan pribadiku, harta berhargaku, mati begitu saja di tangan mereka.

Kawan…!! Kini…, setelah tahu siapa lawan, semakin jelas bagiku siapa saja kawan. Ya…, mereka adalah hati, lubuk hati yang paling dalam, yang senantiasa ada dalam diri setiap orang. Dia selalu hidup dalam diri seseorang, tidak terkontaminasi, dan senantiasa suci, meski kadang setiap orang mengabaikan keberadaannya. Perkataan-perkataannya sungguh bijaksana, berwibawa, baik, dan berharga. Nasihat yang tepat bagi setiap diri. Di samping hati, berdiri naluri. Dia selalu membisikkan petuah-petuah hati ke pikirannku. Dan yang terakhir adalah rasio atau pikiran itu sendiri. Dialah sensor terakhir yang memutuskan apakah aku bertindak atau tidak, mengerjakan baik atau buruk. Dia adalah motor utama setiap tindakan. Namun sayang…, dia gampang berubah. Kadang mengikuti nafsu dan kadang mengikuti hati, tapi bukan berarti dia munafik. Hanya saja dia belum menemukan alasan yang tepat untuk loyal pada salah satunya, antara hati atau nafsu. Dia tidak bisa dipaksa dan tidak suka dipaksa. Untunglah…., saat ini dia berada di kubu hati, meski gerak-geiknya seolah hendak mengikuti nafsu. Aku hanya perlu meyakinkannya dengan alasan yang tepat dan kuat.

Sekarang mereka semua –hati, naluri, dan rasio- telah bersatu. Dibawah pimpinan hati, mereka mengibarkan panji-panji kebaikan. Mereka siap berperang untukku dibawah bendera kebaikan. Aku hanya perlu percaya pada mereka, mengikuti apa kata dan saran hati. Aku percaya padanya, terlebih setelah tahu apa yang dilakukan nafsu terhadapku, yang cenderung merusakku dari segala arah. Kini…, para tentara hati telah siap berperang. Berkat hati, rasioku sudah jalan dengan baik. Genderang perang telah berbunyi dan peperangan telah dimulai.

Hati menyuruhku untuk setia padanya, mengikuti kitab suci, menjaga agama, menuruti orang tua, dan senantiasa membiasakan perbuatan baik. " Jangan pernah kau turuti nafsu lagi….!!!" kata hati. Namun, ternyata nafsu tidak tinggal diam, dia segera menyahut. Dengan lantang dia mengatakan, " Jangan kau turuti hati, sesungguhnya dia adalah pembohong. Dia hanya mengajakmu pada kesusahan, kemelaratan, dan keterkungkungan. Dia hanya akan membebanimu dengan aturan-aturan, halal dan haram, dan kemuliaan-kemuliaan dunia-akhirat yang tidak kau ketahui benar tidaknya. Dia hanya menyesatkanmu dengan fatamorgana masa depan. Ikutlah berasamaku…, sesungguhnya aku adalah teman yang setia dan dapat dipercaya. Hanya dengan bersamaku kau bisa mendapat kebebasan, kebahagiaan, dan kenikmatan. Bukankah kau ingin menjadi dirimu sendiri…? Kutawarkan kepadamu kebebasan sehingga kau bisa berbuat apa saja sesuai keinginanmu dan menjadi dirimu sendiri…!!".

Hati tidak tinggal diam. Sambil berorasi dan membantai maklumat-maklumat nafsu, dia memerintahkan bala tentaranya untuk menghadang tentara-tentara nafsu. Pada naluri dia berpesan," Lindungilah rasio. Bila dia berhadapan dengan musuh yang tangguh, segera bantu dia. Sesungguhnya dia masih lemah, mudah goyah, dan mudah dipengaruhi. Apapun yang terjadi jagalah ia…! Jangan sampai dia mati, tertawan, atau dikuasai musuh. Jika tidak, maka tuanmu pasti akan celaka. Korbankan segala apa yang kau miliki untuknya demi tuanmu." Dengan patuh dan ikhlas, naluri pun menuruti perintah hati. Dia berjuang mati-matian bersama rasio sambil menjaganya. Pengorbanannya benar-benar besar.

Begitulah yang terjadi….! Peperangan demi peperangan terus berlangsung. Kadang kebaikan menang dan kadang nafsu yang menang. Kadang rasio tertawan dan dikuasai lawan, kadang pula dia melawan dan memporak-porandakan lawan. Siapa pemenang dan siapa pecundang masih belum bisa ditentukan.

Peperangan ini belum mencapai titik akhir. Peperangan ini takkan pernah berhenti dan akan terus berlangsung, hingga akhirnya ajal menjemput sang tuan yang diperebutkan. Hingga kini…, peperangan tersebut masih terus berlangsung dalam diriku. Antara hati dan nafsu….! Manakah yang harus kupercaya…?

What a life for ?

Life is for war
Kill each other
Cheat for victory
Seize from the others
Be powerful

And

Dominate the world

Is it right….



----???? ????
--?????\/?????
---??????????
-----??????
--------??

Thursday, December 14, 2006

You Make Me Learn

It really hurt to love
It really hurt to hate
It really hurt to feel

But...

It really hurt to hurt someone

Thank for someone
Who make me learn....

About love and lost
About happiness and sadness

You make me learn and realize
That life is uncertainty...
Life is not just for me

And...

Life should not be egoist
You make me learn...
It is not good to hurt
It is not good to lie

And ...

It is not good be egoistic

Thank you...

I don't want to hurt you
I don't want to hate you

I just want to say...

Thank you...

Although I’ll never meet u
It doesn’t mean I hate u

Just…

Thank you…

Friday, December 08, 2006

Apa Cinta

Sudah sejak lama aku memendam sebuah rasa pada seseorang. Sebuah rasa konyol yang berbeda dengan rasa strawberry, apel, mangga, alpukat, atau pun buah-buahan lainnya yang sering kumakan. Rasa ini begitu pekat, mengganggu dan benar-benar menghantuiku. Dalam hati aku bertanya apa gerangan yang membuat hatiku resah dan gundah? Mengapa aku harus mendapatkannya? Kesalahan apa yang telah aku lakukan? Mengapa rasa ini tidak cepat hilang dalam beberapa jam atau beberapa hari? Mengapa aku harus menanggung penyakit seperti ini? Racun apakah yang telah masuk pada tubuhku hingga melemahkan hati dan menguras tenaga serta pikiranku?

Waktu pun berlalu, hari demi hari telah kulewati, ternyata rasa itu tidak mudah hilang dan senantiasa mengganggu aktivitasku. Akhirnya lambat laun seiring berlalunya waktu, aku merasa terbiasa dengan kehadirannya dan aku pun mencoba mencari tahu makhluk macam apa yang bersarang di hatiku. Racun macam apa yang telah aku makan dan kini hendak berkuasa atas diriku? Bagaimana cara melawan penyakit atau racun ini? Obat apa yang bisa menyembuhkanku? Bagaimana cara mendapat obat tersebut?

Suatu waktu terbesit dalam pikiranku, sebuah kata suci yang tak pernah kuucapkan, sebuah kata sakral yang selalu kuhindari, sebuah kata yang senantiasa kujauhi selama hidupku karena aku beranggapan belum waktuku untuk mengenal kata tersebut. Kata yang kumaksud adalah cinta, "cé …, i…., én…,t é….,a…".

Love is complicated.

Cinta benar-benar rumit, tak dapat diartikan dengan kata-kata, tak ada kata semakna yang bisa menggantikannya, dan cinta adalah cinta. Definisi cinta adalah cinta itu sendiri, jika dipaksa didefinisikan dengan kata-kata lain maka akan cenderung mempersempit cinta itu sendiri, menambah kabur dan tidak jelas.

Sebenarnya apa sih cinta…??

Aku sendiri juga tidak tahu dengan jelas. Aku sendiri juga bingung, mengapa hanya karena cinta ada orang yang rela bunuh diri, mengapa hanya karena cinta satu sama lain saling membunuh, dan mengapa pula hanya karena cinta seseorang rela melakukan apa saja demi yang dicintainya.

Sesungguhnya cinta adalah perkara hati, sulit diraba dan dilihat. Ilmu medik pun tidak bisa mempelajari dan menentukan anatominya dengan jelas. Yang kutahu, ketika ibuku melahirkanku itulah cinta. Ketika ibuku merawatku, menyusuiku, menjagaku, menemaniku, mengganti popokku, dan memandikanku, itulah cinta. Ketika ayah dan ibuku bekerja keras demi aku dan saudaraku, masa depanku, dan kehidupanku, itulah cinta. Ketika mereka membelikanku mainan, memenuhi kebutuhanku, memberiku uang, dan senantiasa memperhatikanku, itulah yang kusebut cinta. Mereka tak pernah memintaku mengembalikan apa yang pernah mereka berikan, meski terkadang karena kebodohanku aku menyakiti hati mereka dan membuatnya risau, namun mereka senantiasa peduli padaku dan tak pernah meninggalkanku. Itulah cinta, cinta murni, cinta yang tulus, cinta yang kukenal dari ibu dan bapakku. Merekalah yang mengajariku cinta, merekalah yang kupercaya, dan merekalah yang layak dan harus kucintai.

Namun, kini muncul sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu yang tak kukenal namun mirip cinta yang kukenal. Aku tak tahu apakah ini. Aku tak tahu kapan ini berakhir, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Naluriku mengatakan," Aku sedang terancam !!!!".